bagai mana cara membuat CV yang disukai HRD
bagai mana cara membuat CV yang disukai HRD

bagai mana cara membuat CV yang disukai HRD

HRD manusia kan ya? Ya kita asumsikan saja CV kita akan dibaca banyak manusia lainnya. Bagi orang normal dan kebanyakan, akan menyukai visualisasi yang menyenangkan untuk dilihat. Menyenangkan dari berbagai aspek, seperti; pemilihan font, warna, format layout, dan bahasa yang mempresentasikan kemampuan komunikasi seseorang. Walau sebenarnya visualisasi CV yang baik belum tentu juga menjamin outlook seseorang untuk dapat diterima di perusahaan. Setidaknya dengan visualisasi yang menyegarkan mata, seorang pelamar sudah memiliki kesempatan untuk dilirik HRD.

Poin utamanya adalah it’s not for me, it’s for them. CV yang saya buat bukan untuk saya, tapi untuk dibaca HRD perusahaan. Jadi seharusnya selera/gaya menulis CV bukan mengikuti kemauan pelamar, tapi mengikuti selera pangsa pasar, dalam hal ini HRD.

Tapi kan HRD masing-masing perusahaan beda-beda. Ya, benar sekali. Maka dari itu, di awal sekali saya menekankan bahwa mindset dalam menulis CV adalah bukan HRD-nya secara spesifik, tapi orang secara umum. Daripada pusing menyesuaikan CV untuk perusahaan A yang bergerak di bidang digital, perusahaan B yang bergerak di bidang manufaktur alat elektronik dan perusahaan C yang bergerak di bidang pelayanan jasa. Kenapa tidak sekalian saja buat CV yang bisa diaplikasikan untuk berbagai sektor bisnis yang tentu culture atau budaya orang yang bekerja di sana juga beda-beda.

Less is more.

Kebanyakan orang entah tua, muda, berpengalaman atau tidak, lebih menyukai CV yang ringkas, jelas dan padat. Selain menghemat waktu untuk membacanya, penjelasan yang terperinci tidak diperlukan dalam CV. Karena penjelasan dan cerita di balik suatu pencapaian yang ditulis di CV akan dibicarakan nanti pada proses wawancara kerja/interview. Jadi, jangan tulis terlalu banyak informasi, apalagi berlembar-lembar. CV yang baik dan efisiennya harus muat dalam satu halaman layout kertas.

Sebagai perbandingan, dilansir dari Novoresume, CV Elon Musk dengan pencapaiannya saja bisa dimaksimalkan dalam satu lembar halaman. Lantas, mengapa kita yang bahkan kepikir untuk membuat roket saja tidak, memaksa lebih dari satu halaman. (CV berikut adalah sample, bukan beneran CV nya Si Musk).

Artsy

Menulis CV itu adalah seni. Sama halnya dengan seni menggambar, menari, orang tidak bisa sekedar menggambar dan menari untuk karyanya dapat disukai. Ada tekniknya. Kalau “sekedar”saja ya itu namanya konsumsi pribadi. Beberapa seni yang harus diperhatikan dalam menulis CV:

  1. Pemilihan font. Jangan terlalu basic dan normal dengan menggunakan Times New Roman, ataupun terlalu nyantai dengan menggunakan Comic Sans. Bayangkan orang yang sedang membaca CV kamu, apakah dengan memilih font Comic Sans, ia akan menganggap CV kamu serius? Dan terpenting, jika dibutuhkan, hanya gunakan dua font yang berbeda. Kamu sedang menulis CV bukan poster. Idealnya, hanya satu font.
  2. Template CV. Sekarang sudah zaman digital dan di internet sudah banyak yang menyediakan template CV secara gratis. Kenapa masih saja stuck dengan template Office Word yang flat dan kosong melompong.
  3. Tema CV. Tidak semua orang menyukai warna merah menyala. Dan beberapa orang menganggap warna biru terlalu standard. Karena kita tidak tahu bagaimana tipe pembaca CV, usahakan untuk berada di tengah-tengah. Tidak terlalu berani dengan menampilkan banyak ornamen dan menggunakan warna yang nyentrik dan juga tidak terlalu “standard” dengan warna biru. Seperti pemilihan font, usahakan hanya menggunakan dua warna. Warna juga tidak terlalu bersebrangan, seperti hijau dengan ungu. Permainan warna yang aman adalah menggunakan turunan warna itu sendiri. Misal heading font nya berwarna hijau tua, maka turunan yang bisa digunakan adalah hijau muda.
  4. Tata letak. Usahakan penempatan informasi yang diperlukan dapat mudah ditemukan dan dibaca. Kan lucu kalau HRD harus mencari-cari di mana kamu menuliskan alamat email-mu karena CV mu terlalu ‘padat’.

Foto

Banyak yang salah mengartikan foto untuk CV itu harus formal = kaku. Foto ‘kaku’ di sini maksudnya foto dengan latar warna biru/merah, tipikal foto untuk ijazah atau sertifikat profesional lainnya.

Memasukkan foto dalam CV itu seperti mengunggah foto di Instagram pribadi. Sering kali seseorang mengambil foto beberapa kali dan menggunakan filter sedemikian rupa sebelum akhirnya mengunggahnya. Foto yang dipilih pastilah foto yang memiliki angle terbaik, pencahayaan terbaik, dan senyum terbaik.

Begitu pula dengan foto CV. Tidak perlu kaku, apalagi jika fotonya tidak sedang senyum. Yang perlu dipastikan bahwa foto yang digunakan adalah appropriate dan wajar untuk ditampilkan di depan orang asing/HRD. Karena walau tidak 100% valid, bagaimana seseorang mempresentasikan dirinya di foto, secara tidak langsung ia mempresentasikan bagaimana dirinya di dunia nyata.

Foto yang kasual (tidak kaku) tidak hanya mempresentasikan bahwa kamu bisa bekerja namun juga kamu adalah team player yang baik. HRD akan berpikir kamu dengan senyum terbaik mu, angle terbaik mu, pencahayaan terbaik, pose mu yang kasual dan tidak kaku menunjukkan bahwa kamu terbuka dengan hal baru dan (dari penilaian awal) kamu akan terlihat sebagi pribadi yang menyenangkan, bersahabat dan tidak tertutup. Bukan hanya menyenangkan dalam bekerja, namun juga menyenangkan untuk diajak bekerja sama.

Source: Novoresume. Pengecualian untuk foto perempuan yang menggunakan nose piercing. Mengikuti budaya lokal Indonesia, nose piercing identik dengan hal negatif.

Bahasa yang komunikatif

Memang pada dasarnya bahasa penulisan CV adalah komunikasi satu arah, dimana sasaran/HRD tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan umpan balik atau bertanya secara langsung, kecuali pada sesi interview atau lewat telepon untuk konfirmasi. Tetapi, dengan pemilihan gaya bahasa tertentu akan menunjukkan bahwa si pelamar sedang “berbicara” langsung dengan HRD walau tanpa tatap muka. Hal ini memberi kesan bahwa tidak ada sekat/pembatas antara HRD dan pelamar. HRD akan membacanya seolah CV tersebut ditulis oleh temannya.

Bandingkan format penulisan CV berikut:

Nama:

Tempat, Tanggal lahir:

Agama:

Tinggi badan:

Jenis kelamin:

Golongan darah:

Status:

Hobi:

Adeuh, saya jadi ingat masa kecil yang menulis hal demikian di kertas binder dan bertukaran dengan sesama teman sekolah.

Dengan gaya penulisan CV berikut:

Born 26 years ago in Batam, Kepulauan Riau. My tribe is blend of Batak and Javanese, I’m currently seeking a fresh new competitive and challenging environment where I can serve your organization and establish an enjoyable carreer for myself.

Terjemahan:

Lahir 26 tahun lalu di Batam, Kepulauan Riau. Suku saya adalah campuran dari suku Batak dan Jawa, saya saat ini mencari lingkungan baru yang kompetitif dan menantang di mana saya dapat melayani organisasi Anda dan membangun karier yang menyenangkan untuk diri saya sendiri.

Terdengar bullshit, no way? Tapi pada aktualnya jika saya pribadi diminta untuk menilai dua kandidat, saya akan memilih yang kedua. Karena saya pikir untuk kandidat kedua, pada penerapan di dunia kerja, kemampuan komunikasinya lebih baik dari kandidat pertama.

Sebagai contoh, ketika ia sedang memiliki masalah berkaitan pekerjaan, kemampuan komunikasi ini akan berguna baginya untuk memberi penjelasan secara runtun. Berbeda jika hanya menjawab ya/tidak/kurang tahu/tidak tahu/bukan begitu.

Komunikasi adalah koenci.

Lastly

CV yang menarik dan menyenangkan untuk dilihat dan dibaca menjadi tidak berguna jika posisi yang dilamar, atau kualifikasi pelamar tidak sesuai. CV mungkin bisa mengelabui, pada akhirnya di dunia kerja itu semua akan terkuak. Jadi, jangan lupa untuk selalu jujur. Gombal, dalam menulis CV tidak masalah selama apa yang ditulis memang benar adanya dan bisa dipertanggung jawabkan.

Begitu pula sebaliknya, seseorang dengan pengalaman, pendidikan, dan keahlian yang di atas rata-rata, namun presentasi CV nya hanya ‘ala kadar’, ‘sekedar’, saya juga males baca. Kayak, oh wow, lulusan <insert top university here> tapi CV nya gini doang?

Assalamu'alaikum tolong beri masukan