Infeksi Daerah Operasi
Infeksi Daerah Operasi

Infeksi Daerah Operasi

Epidemiologi Infeksi Daerah Operasi (IDO) / Surgical Site Infection (SSI)

Kejadian IDO secara global bervariasi antara 0,9% angka IDO di Amerika (NHSN 2014),2,6% di Italia, 2,8% di Australia (2002-13, VICNISS), 2,1% di Republik Korea (2010-11) hingga 6,1% di negara-negara dengan pendapatan menengah hingga rendah/Low Middle Income Countries (LIMC) (WHO, 1995-2015) dan 7,8% di Asia Tenggara (SEA) & Singapore (insiden gabungan antara 2000-2012). Yang membenarkan adanya perbedaan angka kejadian yang sangat tinggi di LMIC dan SEA dibandingkan dengan kejadian di Amerika, Eropa, dan Australia.

KONDISI IDO

Kondisi ini mendorong perlunya negara-negara di Asia Tenggara untuk mencermati berbagai faktor risiko yang spesifik dan menyusun strategi pencegahan yang efektif yang tentunya akan memberikan dampak terhadap biaya yang lebih efektif saat diaplikasikan di tingkat lokal. Alasan tingginya kejadian IDO I di LIMC dan penyebab yang diidentifikasi di antaranya:

1. Kurangnya sumber daya manusia yang didedikasikan secara khusus serta dana untuk survelansi

2. Kesulitan untuk menerapkan definisi yang baku

3. Kurangnya alat bantu mikrobiologi dan alat bantu diagnostik lainnya

4. Kualitas dokumentasi yang kurang memadai dari catatan pasien

5. Kebutuhan untuk mengevaluasi bukti klinis untuk memvalidasi keakuratan data

6. Kapasitas laboratorium mikrobiologi yang kurang atau tidak memadai

7. Kurangnya keahlian dalam interpretasi dan penggunaan data

8. Adanya pihak sponsor yang berbeda

Mikrobiologi dari IDO juga bervariasi pada wilayah yang berbeda di seluruh dunia. Di sebagian besar wilayah di penjuru dunia, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis merupakan organisme utama yang menyebabkan IDO yang berhubungan dengan sebagian besar pembedahan yang bersih, dengan sebagian besar negara menunjukkan angka resistansi terhadap Methicillin sebesar 25% hingga 50% dalam isolasi Staphylococcus aureus. Namun demikian, beberapa penelitian dari sejumlah negara berkembang, khususnya sub benua India menunjukkan prevalensi Bacillus Gram negatif yang cukup tinggi – spesies Klebsiella ,

E.coli, dan Pseudomonas aeruginosa – sebagai patogen yang signifikan atas kejadian IDO, termasuk pada pembedahan bersih.

Peningkatan insiden Bacillus Gram-negatif (misalnya ESBL, CRE) menyulitkan pemilihan antibiotik profilaksis untuk pembedahan bersih-kontaminasi. Perbedaan mikrobiologi di negara-negara SEA perlu dipertimbangkan dengan lebih terperinci dikarenakan kurangnya standardisasi metode pengambilan sampel dan definisi IDO dalam penelitian ini. Namun demikian, keberadaan Bacillus Gram-negatif dalam proporsi yang signifikan merupakan faktor penting dikarenakan tingkat produksi ESBL laktamase beta dengan spektrum luas yang tinggi, prevalensi Enterobacteriaceae yang resistan terhadap carbapenem (CRE) di antara organisme ini. Angka kejadian multidrug resistance organisms (MDROs) menyulitkan penentuan antibiotik profilaksis pada operasi saluran pencernaan bersih-terkontaminasi serta menjadikan penentuan pemberian terapi antimikroba semakin menantang.

IDO dapat dicegah dan berkaitan dengan aspek keselamatan pasien. Guideline/Pedoman ini bertujuan untuk memberikan panduan Best Practice pencegahan IDO

Referensi

1.Chen CJ and Huang YC. New epidemiology of Staphylococcus aureus infection in Asia. Clin Microbiol Infect 2014; 20: 605–623.

2.Sumathi BG. Bacterial pathogens of surgical site infections in cancer patients at a tertiary regional cancer centre, South India. Int J Curr Microbiol App Sci (2016) 5(10): 605-616 ,

3.Reddy BR. Management of culture-negative surgical site infections. J Med Allied Sci 2012; 2 (1): 02-06

4.Bhatt CP, Baidya R, Karki P, et al. Multi drug resistance bacterial isolates of surgical site infection. Open Journal of Medical Microbiology, 2014, 4, 203-209

5.World Health Organization: Global guidelines for the prevention of surgical site infection. http://www.who.int/gpsc/ssi-prevention-guidelines/en/

6.Ling ML, Apisarnthanarak A, and Madriaga G. The burden of healthcareassociated infections in Southeast Asia: A Systematic Literature Review and Meta-analysis. Clinical Infectious Diseases 2015;60(11):1690–9

Assalamu'alaikum tolong beri masukan