Kesehatan lingkungan rumah sakit 2019
Kesehatan lingkungan rumah sakit 2019

Kesehatan lingkungan rumah sakit 2019

Kesehatan lingkungan rumah sakit 2019

Kesehatan lingkungan rumah sakit 2019

Kesehatan lingkungan rumah sakit adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial di dalam lingkungan rumah sakit.

Kualitas lingkungan rumah sakit

Kualitas lingkungan rumah sakit yang sehat ditentukan melalui pencapaian atau pemenuhan standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan pada media air, udara, tanah, pangan, sarana dan bangunan, dan vektor dan binatang pembawa penyakit.

Standar baku mutu kesehatan lingkungan merupakan spesifikasi teknis atau nilai yang dibakukan pada media lingkungan yang berhubungan atau berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat di dalam lingkungan rumah sakit. Sedangkan persyaratan kesehatan lingkungan adalah kriteria dan ketentuan teknis kesehatan pada media lingkungan di dalam lingkungan rumah sakit.

A. Standar Baku Mutu Air dan Persyaratan Kesehatan Air

  1. Standar Baku Mutu Air Standar baku mutu air untuk minum sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur mengenai standar baku mutu air minum.
  2. Standar baku mutu air untuk keperluan higiene sanitasi sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur mengenai  standar  baku mutu air untuk keperluan higiene sanitasi.
  3. Air untuk pemakaian khusus yaitu hemodialisis dan kegiatan laboratorium.

       Air untuk pemakaian khusus adalah air yang dibutuhkan untuk kegiatan yang bersifat khusus di rumah sakit yang memerlukan persyaratan tertentu dan berbeda dengan air minum. Standar baku mutu air untuk hemodialisis meliputi parameter biologi dan kimia, sedangkan standar baku mutu air untuk kegiatan laboratorium meliputi parameter fisik, biologi dan kimia.

Dibawah ini beberapa tabel Kesehatan lingkungan rumah sakit 2019

Tabel 1 merupakan rincian kadar maksimum parameter biologi untuk setiap jenis media yang dipakai untuk hemodialisis dengan satuan colony forming unit (CFU) per mili liter media atau CFU/ml yang mengacu pada American National Standards Institute
(ANSI) dan Association for the Advancement of Medical Instrumentation
(AAMI).

Tabel 1 : Standar Baku Mutu Kualitas Biologi Air untuk Hemodialisis

Standar Baku Mutu Kualitas Biologi Air untuk Hemodialisis

Tabel 2 merupakan standar baku mutu kimia air untuk hemodialisis yang dinyatakan dalam kadar maksimum setiap parameter kimia dengan satuan miligram perliter (mg/l). Terdapat 20 jenis parameter kimia yang mengacu pada rujukan American National Standards Institute (ANSI) dan
Association for the Advancement of Medical Instrumentation (AAMI) tahun 2015.

Tabel 2 merupakan standar baku mutu kimia air untuk hemodialisis

No Parameter SBM (Maksimum) Satuan
1 Kalsium 2 mg/liter
2 Magnesium 4 mg/liter
3 Sodium (garam) 70 mg/liter
4 Kalium 8 mg/liter
5 Fluorida 0,2 mg/liter
6 Khlorida 0,5 mg/liter
7 Khloramin 0,1 mg/liter
8 Nitrat 2,0 mg/liter
9 Sulfat 100 mg/liter
10 Perak (copper) 0,1 mg/liter
11 Barium 0,1 mg/liter
12 Seng (zinc) 0,1 mg/liter
13 Alumunium 0,01 mg/liter
14 Arsen 0,005 mg/liter
15 Timbal 0,005 mg/liter
16 Perak 0,005 mg/liter
17 Kadmium 0,001 mg/liter
18 Kromium 0,014 mg/liter
19 Selenium 0,09 mg/liter
20 Merkuri 0,0002 mg/liter

Kualitas air untuk kegiatan laboratorium berbeda dengan kualitas air minum, air untuk keperluan higiene sanitasi, air untuk hemodialisis karena air untuk laboratorium harus memenuhi kemurnian tertentu dan memenuhi maksimum kadar kontaminan ion tertentu agar tidak menjadi katalisator. Dengan demikian kontaminan ion dalam air tersebut tidak bereaksi dengan bahan laboratorium yang dapat mengganggu fungsi peralatan laboratorium.

Selain itu hasil pemeriksaannya tetap sesuai dengan spesitivitas, akurasi dan presisi uji laboratorium. Standar baku mutu air untuk kegiatan laboratorium hanya meliputi parameter fisik dan kimia. Kemurnian air secara fisik dan kimia untuk laboratorium biasanya diukur dengan daya hantar listrik (conductivity), resistivity (daya tahan listrik), dan konsentrasi ion tertentu yang dianggap sebagai kontaminan.

Daya hantar listrik (DHL) adalah kecenderungan air yang mengandung ion menghantarkan listrik, dengan unit/satuan Siemen(S), microsiemens/centimeter (μS/cm) or micromho/cm pada suhu 25°C.

Sedangkan resistivity adalah kebalikan dari DHL yang artinya kemampuan air untuk menahan hantaran listrik dalam penggunaan reagen maupun alat pengujian laboratorium dalam unit/satuan megohmcentimeter (MΩ-cm), pada suhu 25°C.

Demikian pula kemurnian air untuk laboratorium secara mikrobiologi ditentukan dengan menggunakan uji endotoksin yang sangat baik untuk indikator adanya bakteri gram negatif, mikroba hasil samping, jamur dan algae. Spesifikasi kemurnian air untuk laboratorium telah ditetapkan oleh American Society for Testing and Materials (ASTM) D1193, ASTM D5196, ISO (International Organization for Standardization) 3696-1987 and CLSI®
(Clinical and Laboratory Standards Institute C3-A4). ASTM mengelompokkan tingkat kemurnian menjadi tiga tipe, yang paling tinggi

digolongkan sebagai Tipe I, sedangkan tingkat yang lebih rendah digolongkan menjadi tipe II dan tipe III. Namun jika air yang ada tidak dapat memenuhi kualitas tipe I sampai dengan tipe III, maka kualitas air tipe IV dapat digunakan karena standarnya lebih rendah (hanya memenuhi daya tahan listrik, daya hantar listrik, pH, suhu dan Natrium maksimum.

Tabel 3 memuat SBM fisik air yang meliputi parameter daya tahan listrik dan daya hantar listrik sesuai tipe air I, tipe air II, tipe air III dan tipe air IV.

Pada umumnya kegiatan laboratorium hanya memerlukan ke tiga tipe air yaitu I, II dan III. Tipe air I biasa disebut dengan ultrapure water (air yang sangat murni) yang digunakan untuk peralatan laboratorium yang sensitif seperti High Performance Liquid
Chromatography (HPLC), Atomic Absorption Spectroscopy (AAS), dan biakan sel mamalia. Sedangkan tipe air II disebut purified water (air yang dimurnikan) dan biasanya digunakan untuk kegiatan laboratorium secara umum seperti preparasi media dan pembuatan larutan penyangga (buffer).

Tabel 3 : Standar Baku Mutu Fisik Air Untuk Kegiatan Laboratorium

Kesehatan lingkungan rumah sakit 2019

Tabel 4 memuat tentang lima parameter kimia untuk kegiatan laboratorium yang meliputi pH, senyawa organik total, natrium, silika dan khlorida. Masing-masing tipe air membutuhkan spesifikasi saringan membrane berbeda atau cara penyiapannya tertentu seperti Air Tipe II disiapkan dengan distilasi.

Kesehatan lingkungan rumah sakit 2019

  • kementerian kesehatan
  • rencana pembangunan jangka menengah nasional
  • sdgs kesehatan
  • tujuan kb
  • renstra puskesmas
  • rencana pembangunan jangka menengah
  • tujuan pembangunan kesehatan
  • indonesia sehat 2020 depkes
  • renstra dinas kesehatan
  • panca karya husada
  • dimensi sasaran nasional adalah
  • penilaian dan pemantauan advokasi
  • nawacita bidang kesehatan
  • 4 program prioritas kemenkes
  • manfaat kebijakan kesehatan
  • program kesehatan pemerintah 2018
  • visi misi kemenkes 2018
  • strategi pembangunan kesehatan
  • mdgs kemenkes ri
  • nilai nilai kemenkes ri
  • renstra dinas kesehatan provinsi jawa timur
  • universal health coverage adalah pdf
  • nilai-nilai kemenkes ri
  • pembangunan kesehatan nasional
  • renstra revisi kemenkes
  • renstra p2p
  • kebijakan pembangunan kesehatan

Assalamu'alaikum tolong beri masukan