Kategori
Artikel

Sejarah Masjid Al-Birru Pertiwi Bojonegoro

Sejarah Masjid Al-Birru Pertiwi Bojonegoro

mesjid adalah  rumah tempat ibadah umat yang beragama Islam atau kaum  Muslim. Masjid berarti tempat sujud, dan sebutan lain bagi masjid yang ada di Indonesia adalah musholla, langgar atau surau. Istilah tersebut diperuntukkan bagi masjid yang tidak digunakan untuk Sholat Jum’at, dan umumnya berukuran kecil.

Selain digunakan sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur’an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Sejarah singkat Masjid Al-Birru Pertiwi

Tanah ini dahulunya adalah sawah tadah hujan peninggalan Ibu Pertiwi Santosa binti Karso Prawiro (Ibunda keluarga Santoso. Diharapkan Masjid Al bIrru Pertiwi dapat menjadi tempat beramal ibadah sekaligus icon di Bojonegoro.

Bagi umat Islam yang pernah menunaikan ibadah haji, dipastikan tidak asing dengan kain kiswah yang menutupi Ka’bah. Namun sekarang ini kain bertuliskan kaligrafi bersulam emas itu menghiasi masjid Al-Birru Pertiwi Dander, Bojonegoro, Jawa Timur.

Sejarah

Masjid Al Birru Pertiwi dibangun oleh keluarga besar Santosa, putra-putri dari Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi yaitu:
• Kel. Sugeng Santosa
• Kel. Suprapto Santosa
• Kel. Supramu Santosa
• Kel. Widodo Santosa
• Kel. Winarto Santosa
• Kel. Wijiningsih Santosa

Masjid ini dibangun sebagai wujud rasa syukur keluarga besar Santosa kepada Allah SWT dan persembahan bakti cinta kasih kepada orang tua mereka. Desa Dander, Bojonegoro adalah tempat kelahiran dan tempat leluhur dari putra putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi. Oleh karena itu masjid ini dibangun di wilayah Desa Dender, Bojonegoro.

Baca Juga :   KEBIASAAN KOPI YANG SEHAT

Masjid mulai dibangun pada tanggal 24 Maret 2012 yang ditandai dengan peletakan batu pertama dan diresmikan pada tanggal 25 Januari 2014 oleh Bupati Bojonegoro, Bapak Suyoto. Acara persmian dihadiri oleh seluruh keluarga besar Santosa, sanak keluarga, handaitaulan dan masyarakat Bojonegoro yang membutuhkan sekitar 2000 orang.

Selain tempat beribadah, masid ini diharapkan menjadi salah satu Islamic Centre di Bojonegoro yang menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, diskusi, serta pengajian dalam pendidikan dan syiar islam sebagai Rachmatan Lil Alamin serta pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

 

 

Masjid Al-Birru Bojonegoro Dihiasi Kiswah Ka’bah

 

Kain sepanjang 3,5 meter dengan berat 10 kilogram, yang bertuliskan ayat Al-Qur’an menggunakan khat Tsulus itu sekarang masing disimpan di kompleks masjid. “Kiswah ini kebetulan baru datang kemarin, yang bawa Bapak Supramu Santosa selaku Owner masjid ini,” kata Direktur Pelaksana masjid Al-Birru Pertiwi, Ustadz Agus Sholahuddin, Kamis (30/5).

 

Penceramah yang akrab dipanggil Gus Sholah itu menjelaskan, Kiswah ini informasi dari beliau (Supramu Santoso) didapat dari relasinya atau kawan beliau dan alhamdulillah bisa dibawa ke masjid. “Karena sebenarnya Kiswah ini sulit juga, nggak tahu beliau bisa mendapatkannya. Alhamdulillah karena pertolongan Allah mendapatkan Kiswah ini,” jelasnya.

 

Gus Sholah juga menuturkan, kalau dilihat dari namanya kaligrafi tulisannya ini surat Al-Hajj ayat 26 dan tahun pemakaian atau pembuatannya ini 1429 Hijriyah atau sekitar tahun 2008 masehi. Pasalnya dalam kiswah tersebut ada tulisan 1429 menggunakan bahasa arab, tetapi bahannya sama yakni emas.

Baca Juga :   14 Trendy Membuat Wanita Terlihat Cantik

 

“Kiswah ini setiap tahun selalu diganti meskipun kondisinya masih baik, artinya pasti ada tahun pemakaian atau tahun itu tahun pembuatan. Selama satu tahun penuh, Kiswah nempel di dinding Ka’bah,” terangnya.

 

Gus Sholah yang juga ketua Remas Agung Darussalam menambahkan, selama setahun penuh Kiswah dijadikan ibadah thawaf para umat islam yang menjalankan ibadah haji. “Harapannya juga mendapatkan keberkahan dari orang-orang yang menjalankan ibadah umroh dan juga haji itu. Sehingga kita memasang Kiswah ini di Masjid Al-birru Pertiwi supaya Masjid Al birru Pertiwi ini akan mendapatkan berkahnya Baitullah Ka’bah. Sekaligus juga berkahnya masjid karena bagaimanapun juga Kiswah ini selama satu tahun ada di dalam Masjidil Haram,” imbuhnya.

 

Namun sementara ini, Kiswah belum bisa dipasang diatas imaman masjid karena masih menunggu pembuatan tempat atau pigura Kiswah. “Sebenarnya keinginan beliau (Bapak Supramu Santoso) dipasang sebelum lebaran, tapi belum bisa dan menunggu proses pembuatan figuranya,” pungkasnya yang juga pengurus travel umrah PCNU Bojonegoro itu.

 

Seperti diketahui Kiswah adalah kain yang menutupi Ka’bah di Makkah, Saudi Arabia. Kain ini biasanya diganti setiap tahun pada tanggal 9 Dzulhijjah, hari ketika jamaah haji berjalan ke Bukit Arafah pada musim Haji. Nama kiswah dalam bahasa Arab berarti ‘selubung’ (kain yang dikenakan pada peti) dan seasal dengan kata kisui dalam bahasa Ibrani.

tolong beri masukan